Abcmarathinews.com – Teror api misterius tak henti-hentinya melanda kediaman Mutfiana alias Fia di Seyegan, Sleman, DIY. Fenomena kebakaran berulang ini terus terjadi, memaksa Fia dan keluarganya mengungsi demi keselamatan. Sejak dua pekan lalu, Fia mencatat kemunculan api sebanyak 106 kali di 65 titik berbeda di dalam rumahnya, sebuah angka yang mencengangkan.
Kondisi ini jelas memukul psikis Fia dan keluarganya. Ia mengaku sangat tertekan dan diliputi rasa was-was setiap saat. Mereka terpaksa tidur hanya sekitar tiga jam sehari, bergantian dengan regu relawan untuk mengawasi rumah agar api yang muncul sewaktu-waktu tidak membesar. "Tensi naik sudah pasti. Begadang terus, kurang tidur, kurang makan, gizi tidak teratur," ungkap Fia dengan nada lelah saat ditemui di Kantor Kecamatan Seyegan. Beban pikiran juga bertambah dengan estimasi kerugian material yang mencapai Rp70 juta, belum termasuk dampak signifikan pada usaha pemotongan ayam miliknya yang kini tersendat.

Untuk mengungkap misteri di balik "spontaneous ignition" atau kemunculan api spontan ini, tim gabungan dari Detasemen Gegana Satbrimob Polda DIY, serta para pakar multidisiplin dari UGM dan UPN ‘Veteran’ Yogyakarta, turun tangan melakukan investigasi mendalam.
Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM menyimpulkan bahwa fenomena di rumah Fia ini merupakan kasus yang sangat khusus. Dugaan sementara tim pakar UGM mengarah pada asosiasi kemunculan api dengan keberadaan gas hidrogen (H2) di lokasi. Gas hidrogen ini diyakini kuat berasal dari proses fermentasi limbah organik sisa usaha pemotongan ayam yang telah berlangsung selama 16 tahun di kediaman tersebut.
Sarju Winardi, Dosen sekaligus Asisten Profesor di Departemen Teknik Geologi UGM yang juga tergabung dalam PKPE, menjelaskan bahwa campuran kotoran, sisa air, darah, dan bulu-bulu ayam dapat mengindikasikan sumber senyawa lain yang lebih mudah terbakar pada suhu kamar, yakni gas fosfin (PH3), selain hidrogen. Ia juga secara jujur mengakui bahwa timnya belum memiliki jawaban komprehensif mengapa fenomena semacam ini tidak terjadi di tempat pengelolaan limbah pemotongan ayam lainnya, menekankan bahwa ini adalah kasus yang unik dan tidak dijumpai di tempat lain.
Mengenai pertanyaan mengapa fenomena ini baru terjadi sekarang setelah 16 tahun, Sarju menerangkan bahwa terbentuknya gas hidrogen dari limbah organik sangat bergantung pada aktivitas mikrobakteri anaerob, khususnya Clostridium. Semakin banyak jumlahnya, semakin cepat pula kemampuan produksinya. Asumsi timnya, aktivitas mikroorganisme tersebut kini telah mencapai puncaknya. Kapasitas gas hidrogen disinyalir sudah sangat optimal, sehingga gas tersebut merembes keluar dan melayang di udara, memicu kemunculan api yang berulang. Fenomena serupa secara ilmiah dapat ditemukan di daerah bekas lokasi pembuangan sampah atau area kuburan yang kaya material organik.




