Abcmarathinews.com – Ribuan mahasiswa membanjiri jalanan Gubernur Suryo di Surabaya, menyuarakan protes di depan Gedung Negara Grahadi. Di tengah hiruk pikuk demonstrasi yang mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah, seorang penjual kopi keliling, Aan, yang juga penyandang disabilitas, tampil menonjol. Dengan lantang, Aan menyampaikan keluh kesahnya, menyoroti isu krusial yang jauh lebih mendesak daripada program Makan Bergizi Gratis (MBG): ketersediaan lapangan kerja yang layak bagi kaum difabel.
Dalam orasinya yang penuh semangat, Aan menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah seharusnya adalah memastikan penyandang disabilitas dapat bekerja secara maksimal. Ia menyoroti ironi diskriminasi yang masih merajalela di dunia kerja, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. "Banyak sekali disabilitas yang nganggur," ungkap Aan, menambahkan bahwa beberapa temannya bahkan menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat efisiensi perusahaan, menempatkan kaum difabel dalam posisi yang semakin rentan.

Lebih jauh, Aan tidak segan mendesak pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk berani mundur jika memang tidak mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya. Kritik pedasnya juga menyasar Presiden Prabowo Subianto, yang dinilainya kerap menampilkan "gimmick" dalam setiap pidatonya, termasuk gaya joget khas yang sering viral, alih-alih fokus pada solusi nyata permasalahan bangsa.
Aksi demonstrasi ini sendiri diikuti oleh elemen mahasiswa dari berbagai kampus terkemuka di Surabaya, termasuk Universitas Airlangga, UPN Veteran Jawa Timur, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Muhammadiyah Surabaya, serta aliansi BEM se-Surabaya, BEM SI Jatim, dan BEM Nus Jatim. Mereka bersatu padu membawa poster dan spanduk berisi tuntutan, bergantian menyampaikan orasi melalui pengeras suara.
Isu demokrasi yang dianggap kian terancam menjadi salah satu poin utama orasi mahasiswa. Mereka juga menyoroti peran aparat keamanan yang dinilai tidak fokus pada tugas pokok menjaga kedaulatan negara, melainkan justru terlibat dalam urusan proyek seperti MBG. "Indonesia sedang sakit parah," teriak salah seorang orator, menggambarkan kondisi yang mereka rasakan.
Aliansi mahasiswa, khususnya BEM Unair, merilis serangkaian tuntutan yang komprehensif. Di antaranya adalah mendesak penguatan integritas dan independensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), percepatan pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) Perampasan Aset serta RUU Masyarakat Adat, dan penolakan terhadap militerisme demi mengembalikan fungsi pertahanan negara sesuai prinsip supremasi sipil. Mereka juga menuntut penghentian budaya antikritik dan jaminan kebebasan berekspresi.
Tuntutan lainnya mencakup pengusutan tuntas dugaan korupsi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kasus penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) palsu yang melibatkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Mahasiswa juga mendesak penghentian proyek-proyek ekstraktif yang merusak ruang hidup masyarakat serta pemulihan ekosistem yang telah mengalami kerusakan. Mereka secara tegas menuntut penghentian pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Selain itu, aliansi mahasiswa menuntut permintaan maaf kepada rakyat serta evaluasi total terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran, pembebasan seluruh tahanan politik tanpa syarat, dan pengembalian independensi Bank Indonesia dengan mengutamakan kompetensi dan keahlian moneter. Mereka juga menyerukan penghentian segala bentuk tindakan represif aparat terhadap masyarakat sipil, jaminan kesejahteraan tenaga pendidik, tenaga kependidikan, serta tenaga kesehatan, pemerataan akses dan fasilitas kesehatan serta pendidikan di wilayah 3T, penghentian praktik eksploitasi buruh dan diskriminasi gender di dunia kerja, serta jaminan kebebasan pers sebagai pilar demokrasi.




