Abcmarathinews.com – Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah mempersilakan Tiyo Ardianto, mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), untuk segera mengajukan laporan resmi terkait penemuan dua perangkat yang diduga sebagai alat pelacak di kendaraannya. Pihak kepolisian menegaskan pentingnya laporan tersebut sebagai landasan hukum untuk memulai penyelidikan yang prosedural, objektif, dan mendalam.
Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, dalam keterangannya, menyatakan bahwa hingga saat ini, pihaknya belum menerima aduan resmi dari Tiyo. Meskipun demikian, jajaran kepolisian tetap melakukan pemantauan dan pengumpulan informasi awal guna menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah tersebut.

Sementara itu, Tiyo Ardianto sendiri tengah menimbang langkah untuk melayangkan laporan resmi ke kepolisian mengenai penemuan alat yang disebut PBX Finder ini. "Saya sedang mempertimbangkan untuk melapor sambil melakukan investigasi secara mandiri," ujar Tiyo dalam kesempatan terpisah.
Tiyo mengungkapkan penemuan dua perangkat pelacak tersebut terpasang di mobil yang ia kendarai. Informasi ini pertama kali ia bagikan melalui akun Instagram pribadinya, setelah mendapatkan serangkaian notifikasi dari perangkat pelacak bernama PBX Finder saat dalam perjalanan dari Semarang menuju Yogyakarta.
Menurut Tiyo, kecurigaan awalnya muncul ketika ia menyadari kehadiran beberapa individu tak dikenal yang membuntuti dan memotretnya secara terbuka saat mengisi sebuah kegiatan diskusi di Semarang. "Itu menurut saya menjadi sinyal awal bahwa saya memang sedang diintai," kata Tiyo.
Setelah acara di Semarang selesai, Tiyo melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta untuk mengikuti sebuah aksi demonstrasi di Gejayan. Dalam perjalanan, ponselnya menerima pemberitahuan terkait perangkat pelacak yang bergerak bersamanya. Usai aksi, ia melakukan pengecekan pada mobilnya dan menemukan sebuah alat berbentuk kotak bermagnet yang menempel di bagian belakang bodi kendaraan.
Keesokan harinya, saat kembali menuju Semarang, notifikasi serupa kembali muncul meskipun perangkat pertama telah dilepaskan. Setelah melakukan penelusuran kembali, Tiyo menemukan alat kedua, berbentuk cakram pipih, yang direkatkan menggunakan lakban berwarna hitam di bagian ban kanan belakang mobilnya.
Tiyo mengaku diliputi kekhawatiran karena tidak mengetahui keterkaitan antara kedua perangkat tersebut. Ia menduga alat pertama baru dipasang saat berada di Yogyakarta karena kondisinya masih bersih, sementara alat kedua disinyalir telah terpasang sejak beberapa hari sebelumnya dan terakhir terlacak diperiksa pemiliknya saat ia masih berada di sebuah hotel di kawasan Tembalang, Semarang.
Setelah berkonsultasi dengan berbagai pihak, Tiyo menilai pemasangan alat pelacak ini kemungkinan besar merupakan bentuk intimidasi. "Saya kira justru di situlah esensi teror tersebut terletak. Bahwa ini memang sengaja dipasang agar saya menyadarinya, supaya menjadi peringatan bagi diri saya bahwa setiap pergerakan saya diketahui oleh pihak tertentu, ada orang-orang yang mengamati," pungkasnya.




