Abcmarathinews.com – Suasana pelantikan pejabat di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (27/4) sore, menjadi saksi bisu kehadiran sosok intelektual publik yang kerap mengundang perhatian, Rocky Gerung. Kehadirannya tak hanya sekadar menyaksikan prosesi penting tersebut, namun juga membuka tirai obrolan-obrolan menarik dengan sejumlah tokoh penting, termasuk Presiden RI Prabowo Subianto dan Sekretaris Kabinet Letkol TNI Teddy Indra Wijaya.
Rocky menceritakan momen pertemuannya dengan Prabowo usai pelantikan para anggota kabinet baru. "Sama Pak Prabowo ya saya salaman tadi, dan Pak Prabowo kan teman saya diskusi dulu tuh," ujarnya kepada wartawan di lingkungan Istana Kepresidenan. Prabowo menyambutnya dengan candaan khas, "Oh Pak Rocky terima kasih hadir," dan kemudian menambahkan, "Ternyata Pak Rocky masih disiden." Rocky menanggapi santai dengan senyum, "memang saya disiden," sembari menyoroti ekspresi Prabowo yang penuh canda.

Rocky menegaskan kehadirannya di Istana adalah sebagai representasi masyarakat sipil. Ia berkomitmen untuk terus mengawal kinerja kabinet pemerintahan Prabowo-Gibran Rakabuming Raka. Secara khusus, ia menyoroti pelantikan tokoh buruh Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup yang baru, menggantikan Hanif Faisol Nurofiq. "Ya sebagai wakil masyarakat sipil, diundang untuk menyaksikan, sekaligus menjadi penanda bahwa kabinet itu juga jadi efektif kalau ada tokoh-tokoh mantan napi," ucap Rocky.
Jumhur Hidayat, yang kini resmi menjabat Menteri Lingkungan Hidup, adalah sosok yang dikenal Rocky. "Jumhur Hidayat itu mantan narapidana. Tapi dia seorang intelektual, dia belajar tentang perburuhan, ekonomi, lingkungan, dari ITB. Jadi karena dia saya kenal, maka saya dampingi tuh," jelasnya. Sementara itu, Hanif Faisol kini dipercaya sebagai Wamenko Pangan, mendampingi Zulkifli Hasan sebagai Menko.
Tak hanya dengan Prabowo, Rocky juga terlihat berbincang akrab dengan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya sebelum prosesi sumpah jabatan para menteri baru. Mereka mendiskusikan konsep "ethics of care" dan "ethics of right." Rocky menjelaskan bahwa "ethics of care" merujuk pada cara kepemimpinan ditunjukkan secara psikologis melalui bahasa tubuh, yang terbagi antara yang terucap dan tersembunyi. "Nah, saya bilang Pak Teddy ini mampu untuk memilah, kapan bahasa tubuh yang terucap itu dipamerkan, kapan bahasa tubuh yang sifatnya psikologis itu disimpan untuk hal-hal yang momentum," pungkas Rocky, memberikan pujian atas kemampuan Seskab tersebut. Kehadiran dan obrolan Rocky Gerung di Istana kali ini tentu memberikan perspektif menarik dari seorang pengamat yang tak pernah lelah bersuara.


