Abcmarathinews.com – Dua unit helikopter khusus pengebom air telah dikerahkan untuk menanggulangi kebakaran hebat yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Mauk, Kabupaten Tangerang, sejak Selasa lalu. Insiden ini telah memicu respons besar-besaran dari berbagai pihak, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Brigjen TNI Djohan Darmawan, Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, mengungkapkan bahwa dua helikopter jenis MI-8AMT dengan nomor registrasi RA-22834 telah direposisi dari Provinsi Jambi untuk membantu operasi pemadaman. Salah satu helikopter tersebut memiliki kapasitas angkut air yang masif, mampu membawa hingga 4.000 liter air untuk dijatuhkan langsung ke titik-titik api.

"BNPB saat ini telah memperbantukan dua unit heli water bombing yang salah satunya sudah berada di Bandara Pondok Cabe, sementara unit lainnya sedang dalam perjalanan dari Jambi dan diperkirakan segera tiba," jelas Djohan di Tangerang.
Kedua helikopter ini akan beroperasi dengan strategi pelepasan bom air secara presisi di atas gunungan sampah. Fokus utama penyiraman adalah pada puncak-puncak sampah yang masih mengeluarkan api dan kepulan asap tebal, yang diduga menjadi pusat titik-titik api di bagian dalam tumpukan. Untuk efisiensi, helikopter akan mengambil pasokan air dari sebuah danau kecil yang terletak di dekat TPA. "Dengan sumber air yang dekat, diharapkan proses pemadaman dapat berlangsung lebih cepat," tambahnya.
Selain upaya dari udara, operasi pemadaman juga dilakukan di darat. Petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Polri setempat melakukan penyemprotan air sebagai pendinginan di sisi bawah TPA, membentang dari utara hingga selatan. Djohan mengakui bahwa akses langsung ke titik api sangat sulit dan berisiko tinggi karena kondisi tumpukan sampah yang labil. "Sangat tidak memungkinkan untuk mencapai titik api secara langsung karena kondisi yang tidak stabil dan membahayakan keselamatan personel pemadam kebakaran, TNI, maupun Polri," ungkapnya.
Tidak hanya itu, BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga tengah menyiapkan langkah lanjutan yang lebih canggih, yaitu Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Sebuah pesawat khusus akan dipersiapkan untuk menyemai garam di awan, dengan harapan dapat memicu hujan buatan dan mempercepat pemadaman api secara signifikan. "Kami membutuhkan awan yang cukup untuk proses penyemaian garam ini. Ini menunjukkan komitmen pusat dan daerah untuk tidak membiarkan situasi ini berlarut-larut, kami harus bertindak cepat dan tanggap," tegas Djohan.
Hingga saat ini, luasan area TPA Jatiwaringin yang terbakar telah mencapai sekitar 15 hektare. Dampak dari kebakaran ini tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada masyarakat sekitar. Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasid, melaporkan bahwa puluhan jiwa telah terdampak oleh asap pekat akibat kebakaran. Sebagai respons cepat, pemerintah daerah telah melakukan evakuasi darurat untuk memastikan keamanan warga.
"Tim dari Puskesmas, Camat, dan kepala desa setempat terus berjuang dan memantau kondisi masyarakat yang terdampak," kata Maesyal.
Menyikapi eskalasi situasi, pemerintah daerah telah meningkatkan status penanggulangan kebakaran TPA Jatiwaringin dari "siaga" menjadi "tanggap darurat". Peningkatan status ini bertujuan untuk mengoptimalkan seluruh upaya penanganan di lapangan. "Kami menetapkan status darurat karena ini menyangkut masalah kesehatan masyarakat dan risiko penyebaran api yang terus meluas," jelasnya.
Keputusan peningkatan status ini diambil berdasarkan hasil rapat evaluasi penanggulangan bencana kebakaran TPA, yang melibatkan BPBD, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), serta instansi terkait lainnya. Dengan demikian, status tanggap darurat ini berlaku sejak 30 Juni, melalui surat keputusan (SK) Bupati Tangerang tentang penanggulangan kebencanaan. "Peningkatan status ini menjadi pertimbangan penting mengingat dampak asap yang terbawa angin dan sangat dekat dengan area pemukiman warga," pungkasnya.




