Abcmarathinews.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira, melontarkan peringatan keras kepada Presiden terpilih Prabowo Subianto. Peringatan ini terkait rencana Prabowo untuk mewajibkan mata pelajaran bahasa Prancis di seluruh jenjang sekolah di Indonesia, sebuah gagasan yang menurut Andreas perlu dipertimbangkan secara matang agar tidak asal diterapkan.
Andreas menegaskan bahwa kurikulum pendidikan nasional telah memiliki kerangka dan prioritas yang jelas mengenai bahasa-bahasa esensial yang diajarkan. Meskipun bahasa Prancis diakui sebagai salah satu bahasa pergaulan internasional, keputusan untuk menjadikannya wajib tidak bisa serta-merta diambil hanya karena pertemuan diplomatik. "Saya kira di kurikulum kita sudah ditentukan, ya, bahasa-bahasa apa yang penting," ujar mantan anggota Komisi Pendidikan DPR itu dalam sebuah acara Bimtek partainya di Jakarta.

Ia berharap agar kebijakan pendidikan, khususnya terkait bahasa, tidak mudah diinstruksikan hanya karena adanya interaksi dengan pemimpin negara lain. Andreas menekankan pentingnya menjaga fokus pada penguatan bahasa yang sudah menjadi prioritas.
Saat ini, bahasa Inggris merupakan satu-satunya bahasa asing yang diwajibkan dalam kurikulum sekolah. Andreas menggarisbawahi bahwa penguatan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris harus tetap menjadi fondasi utama pendidikan bahasa di Tanah Air. Menurutnya, bahasa Prancis dapat menjadi opsi atau kurikulum tambahan bagi sekolah-sekolah yang memiliki kapasitas dan sumber daya memadai, namun bukan sebagai kewajiban nasional. "Tapi kalau menjadi kurikulum wajib, saya kira kita perlu bahasa Inggris, kita perlu memperkuat bahasa Indonesia, dan itu, ya, saya kira yang paling penting untuk bagaimana pembinaan, ya, pendidikan, terutama pendidikan bahasa," jelasnya.
Andreas juga menilai bahwa instruksi Prabowo untuk mewajibkan bahasa Prancis di sekolah kemungkinan besar lebih merupakan bentuk bahasa diplomatik. Ia menyarankan agar bahasa-bahasa asing lain seperti Mandarin, Jepang, atau Prancis sendiri, tetap menjadi pilihan ekstrakurikuler atau kurikulum tambahan yang memperkaya wawasan siswa, bukan suatu keharusan.
Wacana ini muncul setelah Prabowo Subianto menyampaikan keinginannya agar bahasa Prancis mulai diajarkan di semua tingkatan sekolah. Pernyataan tersebut dilontarkan saat kunjungan kenegaraan ke Prancis. Dalam pidatonya di Istana Elysee, Paris, Prabowo kala itu menyatakan bahwa hubungan Indonesia dan Prancis berada pada fase yang sangat baik dan perlu diperluas, termasuk di bidang pendidikan, sains, dan teknologi. "Saya sudah instruksikan agar semua tingkatan sekolah di Indonesia harus belajar Bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan," kata Prabowo.




