Abcmarathinews.com – Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, mengumumkan kabar gembira terkait ekspansi program Sekolah Rakyat. Diproyeksikan, lebih dari 32 ribu siswa baru akan bergabung pada tahun ajaran 2026-2027, sebuah langkah besar yang disampaikannya saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto meninjau Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 di Tabanan, Bali. Dengan penambahan ini, total siswa Sekolah Rakyat diproyeksikan mencapai lebih dari 45 ribu orang pada tahun ajaran mendatang.
Dalam laporannya, Gus Ipul merinci bahwa saat ini, untuk tahun ajaran 2025-2026, sudah ada lebih dari 15 ribu siswa Sekolah Rakyat yang terdaftar. Angka ini akan melonjak drastis dengan alokasi tambahan lebih dari 32 ribu siswa pada tahun ajaran 2026-2027, sehingga total keseluruhan mencapai lebih dari 45 ribu siswa. Tidak berhenti di situ, pemerintah bahkan menargetkan jumlah siswa Sekolah Rakyat menembus angka fantastis 100 ribu orang pada tahun ajaran 2027-2028. Peningkatan masif ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk membangun gedung permanen Sekolah Rakyat di berbagai pelosok negeri.

Untuk memperkenalkan program ini lebih luas, Gus Ipul menjelaskan bahwa pemerintah kini tengah menggelar kegiatan "open house" Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia. Tujuannya agar calon siswa dan orang tua dapat secara langsung menyaksikan proses pembelajaran yang inovatif. Uniknya, peserta Sekolah Rakyat tidak direkrut melalui pendaftaran terbuka seperti sekolah pada umumnya. Sesuai arahan Presiden Prabowo, calon siswa dijangkau langsung oleh pemerintah, dengan prioritas utama diberikan kepada keluarga yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Gus Ipul juga dengan tegas menekankan bahwa seluruh proses seleksi dilakukan melalui verifikasi data yang ketat, tanpa pungutan biaya sepeser pun, dan dilarang keras adanya titipan dari pihak mana pun. "Sesuai arahan Bapak Presiden, di sini dilarang keras suap-menyuap, tidak boleh ada membayar, tidak boleh ada titipan dari siapa pun," ujarnya, menggarisbawahi komitmen pada transparansi dan keadilan.
Dalam proses penjangkauan yang intensif ini, pemerintah menemukan realitas memprihatinkan: masih banyak anak-anak yang belum pernah merasakan bangku sekolah, putus sekolah, atau bahkan berisiko tinggi untuk putus sekolah. "Apa yang kita temukan dalam penjangkauan ini, itu adalah ada beberapa siswa yang tidak pernah sekolah, belum pernah sekolah, putus sekolah, dan berpotensi putus sekolah," ungkap Gus Ipul, menunjukkan urgensi program ini.
Saat ini, Sekolah Rakyat telah beroperasi di 166 titik sebagai sekolah rintisan di berbagai wilayah. Salah satu contoh suksesnya adalah SRMP 17 Tabanan di Kabupaten Tabanan, Bali, yang saat ini menampung 74 siswa SMP dalam tiga rombongan belajar, menjadi bukti nyata keberhasilan model pendidikan ini.
Lebih lanjut, Gus Ipul juga menegaskan komitmen pemerintah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif di Sekolah Rakyat. Ia menyatakan kebijakan tanpa toleransi terhadap segala bentuk perundungan (bullying), kekerasan fisik dan seksual, serta intoleransi. "Yang tidak boleh terjadi di Sekolah Rakyat adalah perundungan atau bullying, kekerasan fisik dan seksual, dan yang terakhir adalah intoleransi. Ini adalah dilarang keras, pelakunya akan kita tindak tegas dan pada saat itu pula akan kita berhentikan," tegasnya, mengirimkan pesan jelas tentang pentingnya integritas dan keamanan di lingkungan pendidikan.




