Abcmarathinews.com – Kabar duka datang dari Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, seekor buaya berukuran jumbo dengan berat mencapai 585 kilogram dan panjang 5,7 meter ditemukan mati setelah sempat menjalani perawatan intensif di penangkaran.
Kematian buaya yang dikenal dengan nama "Si Undan" ini sontak mengejutkan banyak pihak, terlebih setelah dilakukan pemeriksaan mendalam terhadap isi perutnya.

Penemuan yang sangat mengejutkan ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Inhil, Junaidi. Ia menjelaskan bahwa observasi dilakukan setelah melihat kondisi buaya yang memprihatinkan dengan luka lecet di kedua kaki dan tangannya.
"Kematian buaya dilaporkan setelah personel kita melakukan observasi. Karena tak ada tanda-tanda bergerak, lalu dilakukan pengecekan ternyata sudah mati," ungkap Junaidi.
Selama 20 hari berada di penangkaran, Si Undan juga menunjukkan perilaku aneh, menolak makan meskipun sudah diberikan makanan.
Namun, yang lebih mencengangkan adalah isi perut buaya tersebut. Tim DPKP Inhil menemukan berbagai macam benda aneh, mulai dari 20 kantong plastik, karung goni, tutup botol kemasan, pisau kecil lengkap dengan gagangnya, mata tombak, hingga pecahan tabung televisi.
"Ternyata isinya mengejutkan mulai dari plastik, elektronik, hingga benda tajam," ujar Junaidi.
Semua benda tersebut ditemukan dalam kondisi utuh, tanpa ada tanda-tanda pencernaan. Anehnya, tidak ditemukan satu pun tulang belulang hewan atau manusia di dalam perut buaya tersebut.
Diduga kuat, tumpukan sampah yang tidak bisa dicerna inilah yang menjadi penyebab utama kematian Si Undan. Bayangkan saja, 20 kantong plastik, karung goni, pisau, mata tombak, dan pecahan televisi bersarang di dalam perutnya.
DPKP Inhil telah melaporkan kejadian ini ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Kementerian Kehutanan RI, serta Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSDPL) Padang, termasuk Loka Kawasan Perairan Nasional Pekanbaru Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.
Bangkai Si Undan kemudian dikirim ke lembaga konservasi di Jakarta untuk diawetkan. Langkah ini diambil atas permintaan lembaga tersebut untuk keperluan preparasi.
"Pengiriman bangkai buaya itu atas permintaan lembaga tersebut untuk preparasi dan diawetkan," jelas Junaidi.
Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk lebih menjaga kebersihan lingkungan, terutama sungai dan habitat alami satwa liar.




