Abcmarathinews.com – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya angkat bicara terkait polemik studi banding Rektor IPDN Halilul Khairi ke Universitas Cambridge, Inggris, yang menuai kritik pedas dalam rapat kerja dengan Komisi II DPR. Bima menegaskan bahwa program ini merupakan inisiatif Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) atas arahan langsung dari Menteri Tito Karnavian.
Bima menjelaskan bahwa setiap tahunnya, IPDN meluluskan 1.000 praja yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Kemendagri berharap, melalui program ini, para lulusan IPDN memiliki kompetensi yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada bidang pemerintahan saja.

"Ada kebutuhan untuk urban design, accounting, data science, dan lain-lain. Ini adalah sebuah keniscayaan di masa depan. Dan untuk mempelajari itu, penguasaan bahasa Inggris menjadi kunci," ujarnya.
Lebih lanjut, Bima mengungkapkan bahwa setelah melalui serangkaian pembahasan, Kemendagri memutuskan untuk menjajaki kerja sama dengan Universitas Cambridge. Tujuannya bukan sekadar mengirim dosen untuk belajar bahasa Inggris, melainkan untuk membangun sistem yang komprehensif di IPDN.
"Tujuannya adalah agar lulusan IPDN memenuhi standar yang eligible. Bukan hanya sekadar mengejar skor IELTS atau TOEFL. Jadi, saya rasa kunjungan ini sangat bisa dipertanggungjawabkan," tegas Bima.
Ia juga menambahkan bahwa kunjungan ini telah mendapatkan izin dari Sekretariat Negara (Sesneg). "Jika tidak, kami para Wamen tidak akan pergi. Jadi, yang berangkat adalah Bapak Rektor," imbuhnya.
Sebelumnya, Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PKS, Jazuli Juwaini, mengkritik keras program studi banding Rektor IPDN ke Cambridge. Jazuli menilai program tersebut tidak relevan dengan tugas IPDN, terlebih lagi saat DPR sedang memberlakukan moratorium kunjungan kerja ke luar negeri.
"Jangan sampai Pak Wamen menjelaskan Rektor IPDN studi banding ke Cambridge. DPR saja dibatalkan semua kunjungan ke luar negerinya. Ini Rektor IPDN ke Cambridge," kata Jazuli.
"Padahal IPDN itu bakal jadi camat, bakal jadi apa gitu. Apa urusannya sama Cambridge?" tanyanya retoris.




