Abcmarathinews.com – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui Wakil Ketua Komisi X, MY Esti Wijayanti, secara tegas mendesak institusi pendidikan tinggi untuk segera menonaktifkan dosen yang teridentifikasi sebagai penasihat Yayasan Daycare Little Aresha di Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Desakan ini muncul menyusul dugaan kasus kekerasan serius yang menimpa anak-anak di fasilitas penitipan tersebut.
Esti Wijayanti menekankan bahwa langkah penonaktifan ini krusial sebagai bentuk antisipasi. Hal ini perlu dilakukan apabila dosen yang bersangkutan nantinya terbukti memiliki keterlibatan dalam insiden kekerasan di Daycare Little Aresha, mengingat adanya proses hukum yang harus dihadapi.

"Lebih baik jika penonaktifan dapat dilakukan secepat mungkin, terutama jika yang bersangkutan telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun, tentu saja semua harus mengikuti prosedur hukum yang berlaku," ujar Esti dalam pernyataan tertulisnya.
Ia menambahkan, tenaga pendidik atau tokoh masyarakat yang terlibat dalam kasus kekerasan semestinya menerima sanksi yang lebih berat. "Sanksi bagi tenaga pendidik atau individu berpengaruh bisa mencapai tiga kali lipat dari hukuman yang diberikan kepada masyarakat umum yang mungkin tidak memahami dampak serius dari tindakan tersebut," jelasnya.
Esti juga menegaskan bahwa Komisi X DPR akan segera menggelar pembahasan mendalam jika terbukti ada keterlibatan dosen atau tenaga pendidik dalam skandal ini.
Penanganan kasus kekerasan di Daycare Little Aresha, menurut Esti, tidak boleh hanya terpaku pada aspek hukum. Prioritas utama adalah memastikan pemulihan korban secara komprehensif. "Anak-anak korban mengalami kekerasan fisik dan mental yang sangat serius. Beberapa bahkan menunjukkan dampak trauma yang jelas, termasuk gangguan pada tumbuh kembang fisik mereka," ungkapnya prihatin.
Esti mengungkapkan bahwa ia telah menerima aduan langsung dari para orang tua korban. Mereka secara langsung memaparkan kondisi memprihatinkan yang dialami anak-anak mereka.
Laporan dari orang tua menyebutkan bahwa banyak anak menderita berbagai masalah kesehatan serius, mulai dari pneumonia, bronkitis, infeksi kulit, infeksi saluran kemih (ISK), hingga stunting dan keterlambatan tumbuh kembang. "Kondisi tragis ini diduga kuat akibat minimnya asupan gizi, dehidrasi parah, serta penempatan di lingkungan yang lembap, sempit, dan tidak layak selama mereka berada di daycare," papar Esti.
Selain itu, para orang tua juga sangat berharap agar video-video terkait kasus ini yang telah tersebar di media sosial dapat segera dihapus. "Video-video tersebut sangat mengganggu kondisi psikologis orang tua dan mental anak-anak. Tidak jarang, respons publik justru memperburuk keadaan melalui perundungan di ranah digital," jelas Esti, menyampaikan kekhawatiran para orang tua.
Sebelumnya, Universitas Gadjah Mada (UGM) telah mengonfirmasi bahwa Cahyaningrum Dewojati, yang namanya tersebar di media sosial sebagai penasihat Yayasan Daycare Little Aresha di Umbulharjo, Yogyakarta, memang merupakan salah satu dosen aktif di kampus tersebut.
Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana, dalam keterangannya, menjelaskan bahwa keterlibatan Cahyaningrum dalam pengelolaan daycare tersebut bersifat pribadi. "Kami tegaskan bahwa yang bersangkutan adalah dosen aktif kami, namun keterlibatannya dalam pengelolaan daycare tersebut sepenuhnya dalam kapasitas pribadi," ujar Made Andi. Dengan demikian, UGM sebagai institusi menegaskan tidak memiliki hubungan kelembagaan apa pun dengan Yayasan Daycare Little Aresha.
Sementara itu, pihak kepolisian telah bergerak cepat dengan menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam dugaan tindak kekerasan di Daycare Little Aresha. Kapolresta Yogyakarta, Kombes Eva Guna Pandia, merinci bahwa para tersangka terdiri dari satu kepala yayasan, satu kepala sekolah, dan sebelas orang pengasuh.




