Abcmarathinews.com – Setelah sepekan berlalu pasca banjir bandang dan longsor yang menerjang Aceh, enam desa di Kabupaten Pidie Jaya masih terisolir, bak pulau di tengah daratan. Akses darat terputus total akibat material banjir yang menimbun jalanan, menyulitkan penyaluran bantuan dan mobilitas warga.
Desa-desa yang terpencil itu meliputi Dayah Kruet, Meunasah Cut, Dayah Usen, Meunasah Mancang, Blang Cut, Desa Blang, dan Lueng Rimba, semuanya berada di Kecamatan Meurah Dua. Kondisi ini menciptakan krisis logistik, memaksa warga bertahan dengan sumber daya yang terbatas.

Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, mengungkapkan bahwa kerusakan infrastruktur yang parah menjadi penyebab utama isolasi ini. Jalan-jalan hancur, jembatan putus, membuat kendaraan tidak bisa melintas. Saat ini, satu-satunya cara untuk mencapai desa-desa tersebut adalah melalui jalur udara atau berjalan kaki, sebuah perjuangan berat bagi warga yang terdampak.
Pemerintah daerah telah mengerahkan alat berat untuk membersihkan lumpur dan material banjir yang menutupi jalan. Hasan Basri optimis bahwa dalam dua atau tiga hari ke depan, akses darat ke desa-desa terisolir akan kembali terbuka. "Fokus utama kami adalah membuka akses ke desa-desa yang terisolasi dan terdampak banjir," ujarnya.
Secara umum, distribusi logistik dan layanan medis di posko-posko pengungsian sudah mulai merata. Akses menuju Kabupaten Pidie Jaya dari Banda Aceh melalui jalan darat juga tidak mengalami kendala. Namun, prioritas utama tetap pada pemulihan akses ke desa-desa yang masih terisolir.
Data terbaru dari posko tanggap darurat bencana Aceh menunjukkan bahwa jumlah pengungsi di Kabupaten Pidie Jaya mencapai 24.842 jiwa, tersebar di 103 titik pengungsian. Sementara itu, 17 korban jiwa telah ditemukan, dan 18 orang masih dinyatakan hilang. Selain itu, ratusan warga mengalami luka berat dan ribuan lainnya luka ringan. Kerusakan rumah juga sangat signifikan, mencapai ribuan unit.




