Abcmarathinews.com – Jalan Medan Merdeka Selatan di jantung Ibu Kota Jakarta Pusat kini tak bisa dilalui. Aparat kepolisian telah memberlakukan penutupan total ruas jalan tersebut, menghalau lalu lintas dari arah Jalan Budi Kemuliaan dengan barrier, menyusul kedatangan massa buruh yang kembali turun ke jalan. Penutupan ini dilakukan sekitar pukul 11.27 WIB, mengantisipasi gelombang demonstrasi yang diperkirakan memuncak.
Ratusan buruh, yang berafiliasi dengan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Partai Buruh, terlihat mulai memadati area Jalan Medan Merdeka Selatan. Mereka datang dengan membawa berbagai atribut serikat, bendera, serta spanduk-spanduk besar yang memuat beragam tuntutan, siap menyuarakan aspirasi mereka di hadapan publik.

Aksi massa kali ini berpusat pada penolakan keras terhadap kebijakan upah minimum. KSPI secara tegas menolak penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta untuk tahun 2026, menuntut agar keputusan tersebut direvisi. Tak hanya itu, mereka juga menyuarakan penolakan terhadap Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) di 19 wilayah di Jawa Barat. Para buruh menilai, penetapan upah oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ini bertentangan dengan putusan Mahkamah Konstitusi serta Peraturan Pemerintah tentang Pengupahan, yang berpotensi memperlebar jurang kesenjangan sosial.
Presiden KSPI sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menegaskan bahwa tuntutan mereka bukan sekadar angka. "Ini tentang keadilan, konstitusi, dan masa depan buruh," ujarnya. Said melanjutkan, "Ketika pemerintah daerah mengabaikan peraturan terkait pengupahan dan Putusan MK, buruh tidak punya pilihan selain turun ke jalan dan meminta keadilan langsung kepada Presiden." Pernyataan ini menggarisbawahi tekad para buruh untuk memperjuangkan hak-hak mereka hingga ke tingkat tertinggi.
Pantauan abcmarathinews.com di lokasi menunjukkan, ratusan buruh terus berdatangan dalam konvoi sepeda motor, memenuhi Jalan Medan Merdeka Selatan. Mereka bukan hanya berasal dari wilayah Jakarta, melainkan juga dari berbagai daerah penyangga dan kota-kota lain di Jawa Barat, seperti Bogor, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Cimahi, Cianjur, Sukabumi, Bandung, hingga Majalengka, menunjukkan skala mobilisasi yang luas.




