Abcmarathinews.com – Sebuah pemandangan memilukan kini menyelimuti destinasi wisata Sungai Lokop di Kabupaten Aceh Timur. Kawasan yang dulunya menjadi magnet bagi para pelancong dengan keindahan alamnya, kini telah berubah total menjadi hamparan luas lautan pasir, imbas dari terjangan banjir bandang yang dahsyat. Transformasi drastis bentang alam ini diungkapkan oleh Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Aceh Timur.
Kepala Disparpora Aceh Timur, Syahril, menjelaskan bahwa dampak bencana alam terhadap sektor pariwisata di wilayah tersebut sangat luas dan mendalam. "Berdasarkan kondisi terkini di lapangan, alur Sungai Lokop tidak lagi berada di jalur semula. Sungai yang sebelumnya menjadi destinasi wisata kini menyerupai padang pasir," ungkap Syahril, seperti dikutip dari laporan Abcmarathinews.com.

Lebih lanjut, Syahril menerangkan bahwa terjangan banjir bandang telah menyebabkan aliran sungai berpindah jauh hingga ke kaki gunung. Akibatnya, area yang dulunya ramai dikunjungi wisatawan kini tidak lagi dapat difungsikan sebagai objek wisata. Ikon wisata berupa titi gantung, yang sebelumnya menjadi daya tarik favorit pengunjung, kini tak lagi ditemukan. Infrastruktur penting tersebut dilaporkan rusak parah dan hanyut diterjang derasnya arus banjir.
Data sementara Disparpora menunjukkan bahwa sekitar 80 persen objek wisata di Aceh Timur terdampak dan mengalami kerusakan, mulai dari kategori ringan, sedang, hingga berat. Kerusakan paling parah teridentifikasi pada destinasi wisata pantai dan wisata alam yang berada di daerah aliran sungai, seperti Sungai Lokop di Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur.
Sungai Lokop menjadi cerminan nyata perubahan bentang alam akibat bencana. Dari sebuah destinasi unggulan yang dikenal dengan kejernihan airnya dan pesona alam yang memukau, kini ia menuntut penanganan serius untuk proses pemulihan.
Tidak hanya itu, kerusakan parah juga melanda sejumlah objek wisata pantai. Di kawasan Matang Rayeuk, PP Idi Timur, hampir seluruh pondok wisata di sepanjang garis pantai dilaporkan hancur akibat terjangan banjir dan gelombang laut. Demikian pula di Pantai Leuge, selain kerusakan pondok wisata, abrasi besar juga terjadi yang mengakibatkan terputusnya akses jalan. Kondisi ini secara langsung berdampak pada aktivitas masyarakat sekitar.
Abrasi di Pantai Leuge, menurut Syahril, cukup mengkhawatirkan karena tidak hanya mengancam sektor pariwisata, tetapi juga mengganggu akses vital bagi masyarakat dan wisatawan. Terputusnya badan jalan secara signifikan memukul aktivitas ekonomi warga setempat.
Syahril mengakui bahwa kerusakan masif akibat bencana alam ini merupakan pukulan berat bagi sektor pariwisata Aceh Timur yang sebelumnya mulai menunjukkan geliat kebangkitan. "Kami sangat berharap, melalui sinergi lintas sektor, objek-objek wisata yang terdampak bencana dapat kembali ditata dan bangkit, sehingga mampu menarik kembali minat wisatawan di masa mendatang," pungkasnya, menyuarakan harapan untuk pemulihan.




