Abcmarathinews.com – Bulan Ramadan yang penuh berkah tahun ini membawa nuansa berbeda bagi ribuan warga di Aceh dan Tapanuli Selatan (Tapsel). Alih-alih menikmati sahur di rumah masing-masing, mereka kini harus menjalaninya di tenda-tenda pengungsian darurat, akibat dampak bencana yang melanda wilayah mereka. Pemandangan pilu namun penuh ketabahan ini terekam jelas di berbagai titik pengungsian.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan suasana yang jauh dari kenyamanan, para pengungsi tetap berupaya menjalankan ibadah puasa dengan khidmat. Hidangan sahur yang disajikan seringkali sederhana, hasil bantuan logistik atau masak bersama dengan peralatan seadanya. Penerangan seadanya dari lampu darurat atau bahkan cahaya rembulan menjadi saksi bisu momen kebersamaan yang mengharukan ini.

"Kami bersyukur masih bisa berkumpul dan sahur bersama, meskipun bukan di rumah kami," tutur seorang ibu dari Aceh dengan mata berkaca-kaca, sembari menyuapi anaknya yang masih kecil. "Ini cobaan, tapi kami harus kuat." Senada, di Tapsel, semangat gotong royong tampak begitu kuat. Para pengungsi bahu-membahu menyiapkan makanan, berbagi cerita, dan saling menguatkan satu sama lain di tenda-tenda yang menjadi tempat tinggal sementara mereka.
Momen sahur di pengungsian ini bukan sekadar ritual makan, melainkan sebuah manifestasi ketabahan dan harapan di tengah kesulitan. Ini adalah potret nyata bagaimana semangat kemanusiaan dan solidaritas tetap menyala, bahkan di saat-saat paling rentan. Abcmarathinews.com terus memantau kondisi para pengungsi dan berharap uluran tangan serta perhatian dari berbagai pihak dapat terus mengalir untuk meringankan beban mereka selama bulan suci ini dan seterusnya.




