Abcmarathinews.com – Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian, menegaskan bahwa upaya pemulihan pascabencana di wilayah Sumatra masih terus berjalan dan belum berhenti. Sejak musibah melanda jelang akhir tahun lalu, pemerintah pusat telah mengerahkan segala daya untuk penanganan darurat di daerah terdampak.
Pernyataan ini disampaikan Tito dalam sebuah acara di Masjid Raya Baiturrahman, yang juga merangkai penutupan Aceh Ramadhan Festival. Menurutnya, bencana kala itu berdampak pada 52 kabupaten/kota yang tersebar di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Tim gabungan dari TNI, Polri, hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) langsung diterjunkan ke lapangan, menghadapi medan sulit dengan akses jalan yang terputus dan infrastruktur yang rusak parah akibat banjir.

"Menembus juga sungai-sungai yang putus. Karena kecintaan saya pada Aceh, kemudian hari ini saya lihat situasi sudah jauh banyak berubah dibanding ketika saya datang 29 November lalu," ungkap Tito, menggambarkan kondisi awal yang penuh tantangan.
Ia menilai, situasi di wilayah terdampak kini menunjukkan perbaikan signifikan. Listrik hampir sepenuhnya pulih di sebagian besar area di ketiga provinsi, dan jaringan internet yang sempat terputus juga mulai kembali normal. Distribusi logistik ke wilayah pegunungan seperti Aceh Tengah berangsur membaik, sementara aktivitas pasar dan roda perekonomian masyarakat mulai menggeliat kembali. "Aktivitas pasar dan perekonomian masyarakat pun mulai kembali berjalan, semua karena kerja keras kita dan berkah dari Allah SWT," tambahnya.
Tito menegaskan, hingga kini pemerintah masih melanjutkan penanganan di sejumlah wilayah, terutama di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie Jaya, dan Bireuen. Penanganan juga difokuskan pada daerah pegunungan seperti Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah yang masih mengalami kerusakan jalan serta jembatan sementara.
Pada saat bersamaan, pemerintah telah menyalurkan berbagai bentuk bantuan tahap pertama. Bantuan perbaikan rumah diberikan sebesar Rp15 juta untuk kerusakan ringan dan Rp30 juta untuk kerusakan sedang. Selain itu, ada bantuan perorangan berupa uang lauk pauk Rp15 ribu per hari, bantuan perabotan Rp3 juta, serta stimulan ekonomi Rp5 juta.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp400 miliar dialokasikan khusus untuk wilayah Aceh, termasuk Rp241,6 miliar yang disalurkan ke Pidie Jaya. Selain bantuan pemulihan fisik dan ekonomi, pemerintah juga menyalurkan bantuan berupa perlengkapan ibadah, seperti 5.000 peralatan salat dan 5.000 Al-Qur’an wakaf dari Presiden, dari total 70 ribu yang akan didistribusikan. "Ada sajadah, sarung, dan mukena. Insyaallah bisa bermanfaat dan mohon diberikan kepada yang berhak," pungkas Tito, penuh harap.




