Abcmarathinews.com – Narkoba terus menjadi momok mengerikan bagi bangsa Indonesia. Badan Narkotika Nasional (BNN) RI mengungkapkan data yang mencengangkan, sekitar 50 nyawa melayang setiap hari akibat penyalahgunaan narkoba. Artinya, hampir 18 ribu orang meninggal dunia setiap tahunnya, dengan mayoritas korban berasal dari kalangan generasi muda berusia 14 hingga 25 tahun.
Irjen Muhammad Zainul Muttaqin, Deputi Pencegahan BNN, menjelaskan bahwa saat ini terdapat ribuan jenis narkoba baru yang beredar di dunia. Sebagian besar di antaranya telah terdeteksi masuk ke Indonesia. Bahkan, beberapa jenis telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan.

Zainul juga menyoroti temuan baru, yaitu cairan vape yang ternyata mengandung narkotika jenis etomidate. Zat anestesi ini bahkan dikategorikan sebagai narkotika golongan 1 di Taiwan. Ironisnya, lebih dari separuh penghuni lembaga pemasyarakatan (Lapas) adalah narapidana kasus narkotika.
BNN telah meluncurkan program IKAN (Integrasi Kurikulum Anti Narkoba) sebagai upaya pencegahan yang lebih kuat. Program ini bertujuan untuk memasukkan pendidikan antinarkoba ke dalam sistem pembelajaran sejak dini.
Penasihat Ahli Kapolri, Andi Subiakto, mengingatkan bahwa jika peredaran narkoba tidak ditangani dengan serius, cita-cita Generasi Emas 2045 bisa gagal total. Bonus demografi yang diharapkan justru bisa berubah menjadi bencana demografi. Andi juga menyoroti adanya Lapas yang justru menjadi pusat produksi dan peredaran narkoba.
Andi menilai bahwa pendekatan lunak (soft approach) sudah tidak lagi efektif. Ia mendorong penerapan tindakan yang lebih keras dan tegas (hard approach) dalam memberantas narkoba.
Data Indonesia Drug Report 2025 menunjukkan bahwa jumlah narapidana dan tahanan kasus narkoba mencapai angka yang fantastis. Sumatera Utara menjadi provinsi dengan jumlah tahanan kasus narkoba tertinggi.




