Abcmarathinews.com – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, yang akrab disapa Gus Yahya, menyatakan kesiapannya untuk menyelenggarakan Muktamar NU kapan saja. Pernyataan ini muncul setelah tercapainya ‘islah’ atau rekonsiliasi internal PBNU antara pihaknya dengan kubu Dewan Syuriah yang dipimpin oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Meskipun demikian, Gus Yahya menegaskan bahwa penyelenggaraan forum tertinggi organisasi ini tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan memerlukan serangkaian proses yang matang.
"Muktamar zaman modern begini, mau bikin Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama dua minggu ke depan siap saya. Habis gitu disuruh nyiapin muktamar sebulan siap saya, gampang asal sepakat," ujar Gus Yahya. Ia menyampaikan hal tersebut usai menghadiri silaturahmi bersama struktural PBNU di kediaman KH Miftachul, Pondok Pesantren Miftachussunnah, Kedungtarukan, Surabaya. Namun, ia menambahkan, "Tapi kan bukan hanya soal itu yang dikerjakan, perlu proses." Muktamar sendiri merupakan forum permusyawaratan tertinggi di lingkungan NU, yang secara periodik digelar setiap lima tahun sekali untuk mengevaluasi kinerja, kepengurusan, serta menentukan arah strategis organisasi ke depan.

Gus Yahya juga menegaskan bahwa dirinya tidak merasakan adanya tekanan waktu terkait kapan Muktamar NU akan dilangsungkan. Klaim serupa juga ia sampaikan untuk Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. "Dan saya tidak menghadapi tekanan waktu sama sekali. Rais Aam sendiri juga nggak mau dibatasi waktunya, tergantung teknis itu," jelasnya. Ia menambahkan, pertemuan silaturahmi di kediaman Rais Aam tersebut sama sekali tidak membahas agenda muktamar. Kegiatan itu, menurutnya, murni diisi dengan silaturahmi, selawatan, doa, dan makan bersama, menjadi momen bagi para struktural PBNU untuk memperbaiki suasana dan kondisi kebatinan mereka setelah dinamika konflik internal beberapa pekan terakhir.
Berbeda dengan kesiapan Gus Yahya, Wakil Ketua Umum PBNU, Amin Said Husni, memberikan perkiraan waktu yang lebih spesifik. Ia menyebutkan kemungkinan Muktamar ke-35 NU ini akan digelar pada pertengahan tahun 2026 mendatang. "Jadi ini bukan Muktamar Luar Biasa, tapi ini Muktamar rutinan, Muktamar ke-35 PBNU. Mungkin ya pertengahan tahun 2026," pungkas Amin. Senada, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menyatakan bahwa pihaknya belum membicarakan secara rinci perihal waktu dan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. Menurutnya, hal tersebut sepenuhnya menjadi wewenang KH Miftachul selaku Rais Aam PBNU dan Gus Yahya selaku Ketua Umum PBNU.
"Belum bisa [disebutkan kapan muktamar], nanti tunggu Kiai Miftachul Akhyar dengan Gus Yahya. Ya nanti kan akan ada disampaikan pada saatnya," ujar Gus Ipul, yang juga dikenal sebagai mantan Menteri Sosial, menekankan bahwa detail mengenai muktamar akan disampaikan langsung oleh kedua pimpinan tertinggi NU tersebut pada waktunya.
Sebelum pertemuan silaturahmi di Ponpes Miftachussunnah, KH Miftachul dan Gus Yahya telah lebih dulu bertemu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada Kamis lalu. Pertemuan penting itu juga dihadiri oleh sejumlah Mustasyar PBNU, di antaranya KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, Prof Machasin, dan KH Abdullah Ubab Maimoen. Turut hadir pula Rais Syuriyah seperti KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH Idris Hamid, dan H Mohammad Nuh, serta jajaran Katib Syuriyah.
Pertemuan di Lirboyo tersebut menghasilkan kesepakatan krusial, yakni penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU harus dilaksanakan secepat-cepatnya. Muktamar akan dipimpin oleh Mandataris Muktamar Ke-34 NU, yaitu KH Miftachul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf. "Menetapkan bahwa Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama diselenggarakan dalam waktu secepat-cepatnya oleh Rais ‘Aam PBNU (KH Miftachul Akhyar) dan Ketua Umum PBNU (KH Yahya Cholil Staquf), dengan melibatkan Mustasyar PBNU, para sesepuh, serta pengasuh pesantren dalam penentuan waktu, tempat, dan kepanitiaan Muktamar," demikian bunyi keputusan yang dihasilkan, menunjukkan komitmen bersama untuk segera menggelar forum permusyawaratan tertinggi tersebut dengan melibatkan berbagai elemen penting organisasi.




