Abcmarathinews.com – Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud, akhirnya angkat bicara mengenai polemik pengadaan mobil dinas senilai Rp8,5 miliar yang menjadi sorotan publik. Rudy menegaskan bahwa hingga saat ini, dirinya belum menerima kendaraan mewah tersebut dan masih setia menggunakan mobil pribadinya untuk menjalankan tugas-tugas kedinasan.
"Terkait mobil dinas itu, sampai detik ini Pemerintah Provinsi Kaltim belum menyediakan mobil untuk kami. Jadi, mobilnya memang belum ada. Kendaraan yang saya gunakan sehari-hari untuk dinas masih mobil pribadi," ungkap Rudy kepada awak media. Ia menambahkan, mobil dinas baru tersebut sangat dibutuhkan untuk menunjang mobilitas kepala daerah, terutama mengingat posisi Kaltim sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Hal ini membuat intensitas kunjungan tamu, baik dari dalam maupun luar negeri, sangat tinggi.

"Kaltim adalah miniatur Indonesia, jantung IKN. Tamu yang datang bukan hanya dari seluruh Indonesia, tapi juga global. Tidak elok jika kepala daerahnya menggunakan mobil seadanya. Kita harus menjaga marwah dan kehormatan Kaltim di mata dunia," tegas Rudy. Ia juga menjelaskan bahwa pengadaan kendaraan dinas ini telah mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2006, yang mengatur batasan kapasitas mesin kendaraan kepala daerah.
"Mobil yang diadakan itu hanya 3.000 cc, sesuai Permendagri. Mengenai harga, ada rupa, ada mutu, ada kualitas. Kami tidak terpaku pada nominal harganya, melainkan pada kesesuaian spesifikasi dan kebutuhan," jelasnya. Rudy juga mengklarifikasi bahwa kendaraan yang dimaksud masih berada di Jakarta dan telah menjalani uji coba di sana, memang diperuntukkan bagi operasional di Ibu Kota.
Sebelumnya, Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim, Sri Wahyuni, juga telah memastikan bahwa pengadaan mobil dinas ini merupakan hasil pertimbangan matang. Menurutnya, kendaraan tersebut bukan sekadar fasilitas mewah, melainkan sarana vital untuk menjangkau wilayah Kaltim yang memiliki karakteristik geografis ekstrem. "Pak Gubernur memiliki komitmen kuat untuk memantau langsung setiap permasalahan hingga ke pelosok. Contohnya saat kunjungan ke Bongan, beliau ingin melihat sendiri kondisi jalan yang dikeluhkan warga. Untuk mencapai titik-titik krusial dengan medan seberat itu, dibutuhkan kendaraan yang andal dan representatif," ujar Sri Wahyuni.




