Ekonomi Jakarta di Ujung Tanduk Imbas Konflik Global

Ekonomi Jakarta di Ujung Tanduk Imbas Konflik Global

Abcmarathinews.com – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan kewaspadaan serius terhadap potensi dampak konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran terhadap stabilitas perekonomian global, yang secara langsung dapat merembet ke Indonesia, khususnya Jakarta. Kekhawatiran ini mencuat menyusul laporan mengenai penutupan Selat Hormuz oleh Iran pasca-serangan di wilayahnya.

"Jika Selat Hormuz ditutup, dampaknya pasti akan terasa pada rantai pasok barang, yang pada gilirannya akan memicu kenaikan harga berbagai komoditas," ujar Pramono Anung saat membuka JIS Ramadhan Festival di Jakarta.

Ekonomi Jakarta di Ujung Tanduk Imbas Konflik Global
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Selat Hormuz, sebuah koridor maritim vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, merupakan arteri utama bagi perdagangan energi dunia. Jalur strategis yang terletak di antara Oman dan Iran ini menjadi titik krusial di mana lebih dari seperlima total ekspor minyak global melintas, termasuk pasokan signifikan dari produsen utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, sebelum didistribusikan ke pasar internasional. Penutupannya dipastikan akan memicu gejolak serius pada rantai pasok global.

Meski demikian, Pramono Anung mengimbau masyarakat Jakarta untuk tetap tenang dan tidak panik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan bahwa ketersediaan stok kebutuhan pokok, terutama menjelang perayaan Idul Fitri, berada dalam kondisi yang sangat memadai. Secara khusus, pasokan komoditas daging dilaporkan masih aman dan terkendali, menunjukkan kesiapan daerah dalam menghadapi lonjakan permintaan.

Pemprov DKI Jakarta berkomitmen untuk terus memonitor secara ketat pergerakan harga di pasar-pasar utama serta laju inflasi di ibu kota. Langkah-langkah antisipatif telah disiapkan untuk segera diimplementasikan jika terjadi indikasi lonjakan harga yang signifikan. Sejauh pengamatan, Pramono menyebutkan bahwa belum ada kenaikan harga yang mencolok di pasar-pasar utama Jakarta.

Sebelumnya, Mohammad Faisal, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, telah memproyeksikan potensi lonjakan harga minyak dunia sebagai dampak langsung dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Faisal menjelaskan bahwa harga minyak yang sebelumnya berada di kisaran 70 dolar AS per barel, berpotensi merangkak naik hingga 80 dolar AS per barel jika ketegangan terus berlanjut. Skenario terburuk, menurutnya, adalah jika pasokan minyak di Selat Hormuz benar-benar terganggu, harga minyak bisa melonjak drastis, bahkan menembus angka 100 dolar AS per barel.

Mengingat Selat Hormuz adalah jalur vital bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak global, gangguan distribusi di area ini secara otomatis akan mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia secara signifikan. Faisal menambahkan, jika harga mencapai 100 dolar AS per barel, ini akan menjadi rekor tertinggi yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, bahkan melampaui puncak harga saat awal konflik Rusia-Ukraina. Situasi ini tentu menjadi perhatian serius bagi stabilitas ekonomi, baik di tingkat global maupun lokal Jakarta.

Follow Us

Klik untuk Ikuti kami di Google News

Terkait

Terkini