Abcmarathinews.com – Bencana banjir melanda Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, menyebabkan ratusan rumah warga di sepuluh desa Kecamatan Sirenja terendam. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut menjadi pemicu utama, mengakibatkan setidaknya 522 unit tempat tinggal warga terdampak parah.
Plt Kepala BPBD Sulawesi Tengah, Asbudianto, mengonfirmasi kejadian ini, menjelaskan bahwa curah hujan ekstrem yang berlangsung terus-menerus sejak Jumat telah memicu luapan air sungai. "Hujan deras di Kabupaten Donggala telah menyebabkan sepuluh desa terdampak banjir," ujar Asbudianto, seperti dikutip Abcmarathinews.com.

Fenomena alam ini mengubah aliran sungai menjadi ancaman, di mana volume air yang berlebihan tak mampu ditampung, lantas meluber deras hingga merendam permukiman padat penduduk. Situasi ini menciptakan pemandangan pilu bagi warga yang harus menyaksikan tempat tinggal mereka terendam.
Data sementara yang berhasil dihimpun menunjukkan skala kerusakan yang signifikan. Desa Balentuma menjadi salah satu yang terparah dengan 177 unit rumah terendam, diikuti Desa Tompe dengan 150 rumah. Desa Lompio mencatat 60 rumah terdampak, sementara Desa Tanjung Padang melaporkan 40 rumah. Tidak luput, Desa Dampal dan Desa Tondo masing-masing mencatat 30 unit rumah terendam, serta Desa Lende Tovea dengan 35 rumah. Asbudianto menegaskan bahwa Balentuma dan Tompe adalah dua desa yang paling merasakan dampak terberat dari bencana ini.
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas umum vital seperti kantor desa dan bangunan sarana pendidikan juga tak luput dari terjangan banjir, menambah daftar kerugian material. Sementara itu, petugas di lapangan masih terus melakukan pendataan di Desa Jono Oge, Desa Lende, dan Desa Sipi untuk memastikan jumlah pasti dampak yang terjadi. Kabar baiknya, hingga laporan ini diturunkan, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat insiden banjir ini, meskipun kerugian material diperkirakan cukup besar.
Menanggapi situasi darurat ini, BPBD Sulawesi Tengah terus berkoordinasi intensif dengan aparat desa setempat. Upaya ini bertujuan untuk mempercepat penanganan darurat, termasuk asesmen kerusakan, serta pendataan jumlah warga yang mungkin memerlukan evakuasi atau bantuan pengungsian. "Kerugian material yang ditimbulkan cukup besar, mengingat banyaknya rumah warga yang terdampak," pungkas Asbudianto, menekankan pentingnya respons cepat dan terkoordinasi.



