Abcmarathinews.com – Bantuan logistik krusial akhirnya tiba di Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat terpaksa mengerahkan helikopter. Langkah ini diambil menyusul putusnya akses jalan darat yang membuat desa tersebut terisolasi, sehingga pengiriman makanan dan kebutuhan pokok harus dilakukan melalui jalur udara.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan melalui jalur udara menjadi satu-satunya pilihan mendesak. "Bantuan ini disalurkan melalui udara karena akses jalan menuju kawasan Sikundo masih terputus total dan saat ini masih dalam proses perbaikan intensif," ujar Ronal, seperti dikutip abcmarathinews.com.

Distribusi bantuan via udara tersebut mencakup 125 kilogram beras, 15 kotak paket sembako dari BNPB, serta satu unit mesin genset yang sangat dibutuhkan. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat juga telah berupaya mengirimkan logistik kepada warga Sikundo yang terdampak parah oleh banjir bandang.
Bupati Aceh Barat, Tarmizi, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi 40 Kepala Keluarga (KK) yang tergabung dalam Komunitas Adat Terpencil (KAT) Sikundo. Mereka telah terisolasi hampir sepekan akibat dampak parah banjir bandang. "Kondisi masyarakat komunitas adat terpencil Sikundo saat ini sangat memprihatinkan. Mereka tidak bisa keluar dari desa karena akses jalan rusak parah dan bahkan telah berubah menjadi aliran sungai," kata Tarmizi.
Tarmizi menambahkan bahwa jalan sepanjang lima kilometer yang menjadi satu-satunya akses utama telah hancur lebur dan kini berfungsi sebagai jalur sungai. Jembatan penghubung pun tak luput dari kerusakan, menyebabkan warga benar-benar terputus dari dunia luar. Untuk keluar dari desa, hanya kepala desa dan dua warga lainnya yang berani menyusuri aliran sungai sejauh lima kilometer dengan menggunakan ban bekas. Sebuah upaya yang sangat berbahaya dan mengancam keselamatan jiwa.
Selain ancaman keselamatan, seratusan warga di kawasan tersebut kini menghadapi krisis pasokan bahan makanan dan obat-obatan. Ironisnya, jembatan gantung yang dibangun pada tahun 2019, setelah insiden viral anak-anak sekolah menyeberangi sungai lewat kabel baja, kini telah hanyut terbawa arus banjir. "Saat ini, untuk menyeberangi sungai, tidak tersedia perahu atau sampan. Warga terpaksa menggunakan ban mobil sebagai alat bantu," jelas Tarmizi.
Bupati Tarmizi menegaskan bahwa akses menuju Sikundo memang sangat menantang, bahkan dalam kondisi normal. Jalur tersebut harus ditempuh dengan menerobos hutan belantara menggunakan kendaraan 4×4 yang dikemudikan oleh para sopir off-road berpengalaman. Kondisi saat ini jauh lebih parah, memperburuk isolasi yang dialami warga.




