Abcmarathinews.com – Sebuah kabar duka menyelimuti keluarga besar TNI, khususnya bagi keluarga almarhum Praka Farizal Rhomadhon. Prajurit yang gugur saat menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon, di bawah bendera UNIFIL, kini secara anumerta mendapatkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB). Farizal, yang sebelumnya berpangkat Praka, gugur dalam insiden tragis akibat serangan mortir Israel yang menghantam pos penjagaan UNIFIL di dekat Adchit Al Qusayr.
Kolonel Inf Dimar Bahtera, Komandan Brigade Infanteri (Danbrigif) 25/Siwah, mengonfirmasi kenaikan pangkat tersebut. Bertempat di rumah duka almarhum Farizal di Ledok, Lendah, Kulon Progo, DIY, Kolonel Dimar menjelaskan bahwa Farizal dinaikkan pangkatnya dari Praka menjadi Kopral Dua (Kopda) sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan heroiknya.

Selain kenaikan pangkat, jenazah almarhum juga berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Peni, Wates, Kulon Progo. Namun, Kolonel Dimar menegaskan bahwa TNI menghormati keputusan keluarga. Meskipun ada tawaran pemakaman di TMP sebagai simbol kehormatan negara, pihak keluarga memilih untuk memakamkan Farizal di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Nambangan, Ledok, berdekatan dengan makam kakeknya.
"Kami mengimbau dan menyarankan opsi pemakaman di TMP demi kehormatan dan simbol negara," jelas Kolonel Dimar. Ia menambahkan bahwa hal ini juga berfungsi sebagai contoh, edukasi, dan motivasi bagi masyarakat luas, serta khususnya bagi keturunan dan anak-anak almarhum di masa depan. Pemakaman di TMP, lanjutnya, memenuhi banyak kriteria dan menjamin perhatian berkelanjutan bagi keluarga serta anak-anak yang ditinggalkan.
Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga telah memberikan santunan kepada ahli waris prajurit TNI yang gugur dalam misi UNIFIL. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto secara tegas menyatakan komitmen Indonesia untuk menjamin seluruh hak dan masa depan para prajurit yang gugur saat bertugas di Lebanon. Beliau mengungkapkan bahwa total santunan yang akan diterima keluarga mencapai angka fantastis, yaitu Rp1,8 miliar.
"Kenaikan Pangkat Luar Biasa akan diberikan, dan hak-hak lain dari ASABRI (asuransi) senilai sekitar Rp350 juta juga akan diserahkan," tutur Jenderal Agus di Cimahi, Jawa Barat. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia turut menyediakan beasiswa pendidikan sebesar Rp30 juta untuk setiap anak almarhum, disertai komitmen untuk mengawal proses pendidikan mereka hingga dewasa.
Selain itu, TNI juga akan memberikan gaji penuh 100 persen selama dua belas bulan ke depan, ditambah dengan tabungan hari tua yang terkumpul selama masa bakti almarhum.
Rincian santunan tersebut berasal dari berbagai sumber, meliputi tabungan asuransi sebesar Rp16.285.700, beasiswa per anak sebesar Rp30.000.000, santunan risiko kematian khusus sebesar Rp450.000.000, serta dana perawatan jenazah (watzah) senilai Rp7.500.000. Ditambah lagi, ada Tabungan Wajib Perumahan Angkatan Darat (TWP AD) sebesar Rp20.902.536, santunan personal accident Rp10.000.000, dan kontribusi terbesar dari PBB berupa santunan kematian sebesar Rp1.200.000.000.
Perlu diketahui, insiden ini bukan satu-satunya yang menimpa pasukan perdamaian Indonesia. Total tiga anggota TNI yang bertugas di UNIFIL telah gugur akibat eskalasi konflik antara Israel dan Lebanon. Selain Praka Farizal Rhomadhon yang tewas akibat ledakan proyektil di Adchit Al Qusayr, dua prajurit lainnya, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwaan, juga gugur akibat ledakan di dekat Bani Hayyan dalam waktu yang berdekatan.
Eskalasi kekerasan di wilayah tersebut telah terjadi sejak awal bulan ini, dengan Israel melancarkan serangan intensif ke Lebanon selatan, mengklaim menargetkan aset-aset Hizbullah. Sebagai balasan, milisi Hizbullah juga tidak tinggal diam dan melancarkan serangan balik ke wilayah Israel, menciptakan situasi yang sangat berbahaya bagi pasukan perdamaian di sana.




