Abcmarathinews.com – Sebuah skandal memalukan yang mencoreng wajah pariwisata Indonesia terkuak di Batam, Kepulauan Riau. Seorang oknum pegawai Imigrasi berinisial JS telah resmi diberhentikan dari jabatannya setelah terbukti terlibat dalam praktik pemerasan terhadap sejumlah wisatawan mancanegara di Pelabuhan Batam Center. Insiden ini melibatkan pungutan liar sebesar 300 dolar Singapura per orang dari turis asal Myanmar, Singapura, Malaysia, China, Filipina, dan Bangladesh.
JS, yang sebelumnya menjabat sebagai Official Office di Pelabuhan Batam Center, kini resmi dicopot dari posisinya. Tak hanya JS, seorang calo berinisial AS juga telah diamankan dan kini menghadapi proses sidang kode etik, sembari menunggu koordinasi lebih lanjut dengan aparat kepolisian. "Dua orang yang teridentifikasi terlibat, satu oknum internal dan satu pihak luar, yaitu calo," terang Kepala Imigrasi Batam, Hajar Aswad, dalam konferensi pers.

Meskipun belum ada penetapan tersangka, Hajar Aswad menegaskan komitmen pihaknya untuk mengusut tuntas insiden yang mencoreng dunia pariwisata nasional ini. Penyelidikan mendalam terus bergulir. Fokus utama adalah menelusuri alur transaksi, mengidentifikasi potensi keterlibatan pihak lain, serta memeriksa data perlintasan penumpang pada 13 Maret lalu. Sebagai bagian dari bukti, rekaman CCTV di area pelabuhan juga telah diamankan untuk mendukung proses pembuktian.
Terkuaknya praktik pungli ini mengungkap modus operandi yang licik. Awalnya, wisatawan diminta membayar 100 dolar Singapura. Namun, melalui proses negosiasi antara korban dan calo, jumlah tersebut membengkak hingga mencapai 300 dolar Singapura per individu. Diduga, dari jumlah tersebut, sekitar 150 dolar Singapura diserahkan kepada oknum petugas, sementara sisanya dikantongi oleh calo untuk kepentingan pribadi. Pihak Imigrasi Batam berjanji akan mengembalikan seluruh uang pungli sebesar 300 dolar Singapura kepada para korban.
Insiden tragis ini bermula ketika sejumlah wisatawan yang tiba dari Singapura di Pelabuhan Batam Center diduga dipaksa membayar setelah ‘kesalahan’ pindah antrean di Auto Gate. Mereka kemudian digiring ke sebuah ruangan khusus, dan ‘perdamaian’ tercapai setelah para wisman memenuhi permintaan uang dari oknum petugas. Kasus ini menjadi pukulan telak bagi citra pariwisata Indonesia, khususnya Batam, yang selama ini menjadi gerbang utama bagi wisatawan dari Singapura dan negara tetangga. Pihak berwenang berjanji akan menindak tegas pelaku demi menjaga integritas pelayanan publik dan kepercayaan wisatawan.




