Abcmarathinews.com – Pemerintah telah mengumumkan penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada 19 Februari. Namun, keputusan ini berbeda dengan Muhammadiyah yang memulai puasa sehari lebih awal, yakni pada 18 Februari. Menyikapi perbedaan ini, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Iskandar menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menjunjung tinggi sikap saling menghormati dan memahami.
Imbauan penting ini disampaikan Anwar saat konferensi pers setelah sidang isbat yang diselenggarakan untuk menetapkan awal Ramadan di Hotel Borobudur, Jakarta. Ia menekankan bahwa keberagaman adalah inti dari bangsa ini, sebuah keniscayaan yang terpatri dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, dan hal ini juga berlaku di kalangan umat Islam.

Anwar menjelaskan, Indonesia memiliki lebih dari 80 organisasi kemasyarakatan Islam. Keberagaman organisasi ini secara alami memunculkan variasi dalam amaliah ubudiyah atau bentuk amal dan ibadah. Namun, ia menegaskan bahwa perbedaan-perbedaan tersebut umumnya menyangkut masalah-masalah yang bersifat ijtihad atau teknis, bukan pada prinsip-prinsip dasar agama yang qath’i atau mutlak.
"Oleh karena itu, kemungkinan adanya perbedaan dalam memulai puasa atau mengakhiri puasa adalah sebuah keniscayaan yang bisa kita pahami dan maklumi," ujar Anwar, seperti dikutip abcmarathinews.com. Ia menambahkan bahwa yang terpenting adalah menjaga keutuhan umat Islam. "Keutuhan sebagai umat Islam itu yang harus senantiasa kita jaga. Oleh karena itu, penting untuk saling memahami dan saling menghormati."
Pemerintah sendiri menetapkan 1 Ramadan pada 19 Februari setelah hasil pemantauan hilal menunjukkan bahwa hilal tidak memenuhi kriteria visibilitas yang diperlukan.
Sementara itu, Muhammadiyah menetapkan awal puasa pada 18 Februari dengan menggunakan metode baru, Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang kini menjadi acuan resmi mereka. Metode ini menggantikan wujudul hilal yang sebelumnya digunakan. Implementasi KHGT mensyaratkan keterpaduan tiga unsur utama yang dikenal sebagai Prinsip, Syarat, dan Parameter (PSP). Salah satu parameter pentingnya adalah terpenuhinya posisi hilal setelah ijtimak dengan ketinggian minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat di mana saja di permukaan bumi, tidak terbatas pada wilayah tertentu.
Anwar juga menyoroti bahwa sebagai bangsa yang demokratis, warga Indonesia perlu membiasakan diri dengan adanya perbedaan. Ia melihat perbedaan ini sebagai bagian dari dinamika yang justru memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. Menurutnya, perbedaan yang dikelola dengan baik akan menjelma menjadi harmoni yang indah, yang pada akhirnya akan menjadi sesuatu yang krusial bagi persatuan Indonesia.
"Dan persatuan Indonesia itu menjadi bagian penting dari terciptanya stabilitas nasional," pungkas Anwar, menegaskan kembali pentingnya toleransi dan pemahaman di tengah perbedaan.




