Negara Hadir Usai Tragedi Anak SD di NTT

Negara Hadir Usai Tragedi Anak SD di NTT

Abcmarathinews.com – Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bergerak cepat memberikan pendampingan intensif kepada keluarga seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tragisnya mengakhiri hidupnya sendiri. Tragedi memilukan ini diduga kuat dipicu oleh tekanan ekonomi yang mendalam.

Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menegaskan bahwa fokus utama pendampingan adalah penguatan keluarga, pemenuhan hak pendidikan, dan pemulihan psikologis bagi anggota keluarga yang ditinggalkan. "Tim kami dari Kementerian PPPA di dinas terkait telah berkoordinasi dan melakukan pendampingan. Prioritas kami adalah penguatan keluarga," ujar Arifah di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

Negara Hadir Usai Tragedi Anak SD di NTT
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Pendampingan ini menyasar keluarga inti korban yang kini tinggal bersama nenek, ibu, serta dua saudara kandung berusia 17 dan 14 tahun. Mengingat keterbatasan tenaga ahli di lokasi, pemerintah daerah bersama lintas dinas berupaya mendatangkan psikolog klinis dari kabupaten terdekat untuk dukungan psikologis. Selain itu, PPPA juga berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan untuk memastikan hak pendidikan kedua kakak korban tetap terpenuhi.

Arifah mengidentifikasi temuan awal menunjukkan akumulasi persoalan yang dihadapi korban, termasuk ketiadaan ruang aman untuk mengungkapkan tekanan yang dirasakan. "Analisa sementara menunjukkan anak ini tidak memiliki tempat untuk bercerita tentang apa yang ia rasakan," tambahnya.

Tragedi memilukan ini menarik perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk Presiden Prabowo Subianto. Presiden disebut memberikan atensi khusus dan meminta kementerian terkait berkoordinasi untuk mencegah kejadian serupa terulang. Prabowo juga mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan sosial bagi keluarga rentan.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi koordinasi telah dilakukan dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Sosial untuk penanganan keluarga korban dan langkah pencegahan ke depan.

Di tingkat daerah, Gubernur NTT Melki Laka Lena menyebut insiden ini sebagai kegagalan sistemik, mulai dari pemerintah provinsi hingga lapisan terbawah, dalam mendeteksi dan merespons kerentanan keluarga. Ia menyebutnya "tamparan keras bagi kemanusiaan dan tata kelola perlindungan sosial di daerah."

Korban, seorang siswa kelas IV SD berusia 10 tahun, ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1) di dekat pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun. Polisi menemukan surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibunya, berisi pesan perpisahan dan permintaan agar sang ibu tidak menangis. Keterangan kepolisian menyebut korban sempat meminta uang untuk membeli buku tulis dan pensil, namun tidak dapat dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga. Ibunda korban adalah orang tua tunggal yang bekerja sepanjang hari, meninggalkan korban dalam pengasuhan neneknya.

Masalah depresi dan tendensi bunuh diri adalah isu serius. Jika Anda atau orang terdekat mengalami krisis emosional atau memikirkan bunuh diri, sangat disarankan untuk mencari bantuan profesional. Layanan Hotline Gratis Pencegahan Bunuh Diri Kementerian Kesehatan dan RS Marzoeki Mahdi dapat diakses melalui www.healing119.id, telepon 119 extension 8, atau WhatsApp yang terhubung langsung di situs tersebut. Layanan ini menghubungkan Anda dengan konselor Pusat Kesehatan Jiwa Nasional RS Marzoeki Mahdi serta psikolog klinis dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, menjamin privasi dan dukungan tulus.

Follow Us

Klik untuk Ikuti kami di Google News

Terkait

Terkini