Abcmarathinews.com – Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, baru-baru ini memamerkan berbagai inovasi dan kontribusi signifikan sektor pertanian di wilayahnya kepada Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Kunjungan kerja spesifik yang dipimpin Ketua Komisi IV, Titiek Soeharto, ini berlangsung di Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Hortikultura, Kota Bogor, menjadi sorotan atas potensi besar daerah tersebut dalam memajukan pertanian nasional.
Dedie menyoroti peran vital Kota Bogor sebagai pusat riset dan pendidikan pertanian. Dengan lebih dari 50 lembaga penelitian, mulai dari tingkat pusat hingga balai, serta didukung oleh lebih dari 4.000 ahli di bidangnya, Bogor telah lama menjadi tulang punggung kemajuan pertanian di Tanah Air. Visi ini bahkan menjadi fondasi utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Bogor 2025-2045, yang bercita-cita menjadikan Bogor sebagai "Kota Sains Kreatif, Maju, dan Berkelanjutan."

"Kehadiran institusi riset dan para pakar di Bogor ini merupakan aset berharga yang telah banyak berkontribusi bagi Indonesia," ujar Dedie. Ia menambahkan bahwa tantangan pertanian ke depan, terutama akibat perubahan iklim, menuntut peran lebih besar dari para ahli. Dedie berharap, melalui inovasi berkelanjutan, lembaga riset ini dapat terus mendorong kemajuan pertanian, mewujudkan kemandirian pangan, dan menghadirkan solusi-solusi baru.
Dalam kunjungan tersebut, anggota Komisi IV DPR RI berkesempatan meninjau langsung berbagai hasil riset unggulan BRMP. Mereka terpukau dengan penemuan seperti varietas ayam kampung unggul baru yang memiliki ukuran besar dan produktivitas telur mencapai 250 butir per ekor per tahun, serta inovasi hortikultura terbarukan, teknologi pertanian modern, dan upaya hilirisasi produk. Ketua Komisi IV, Titiek Soeharto, secara khusus menyampaikan apresiasinya terhadap ayam kampung dan varietas bawang berukuran jumbo yang berhasil dikembangkan BRMP.
"Kami di Komisi IV akan berupaya keras untuk mendorong penyebarluasan hasil-hasil penelitian ini ke seluruh penjuru Indonesia," tegas Titiek. Ia berharap, langkah ini dapat mempercepat pencapaian swasembada telur dan bawang, menyusul keberhasilan swasembada jagung dan beras. Ke depan, Titiek menekankan pentingnya swasembada komoditas lain seperti kedelai untuk mengurangi ketergantungan impor. Kunjungan ini juga merupakan bagian dari fungsi pengawasan DPR RI untuk memastikan lembaga-lembaga di sektor pertanian bekerja efektif dan memberikan manfaat nyata.
Kepala BRMP, Fadjry Djufry, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dukungan dan perhatian Komisi IV DPR RI, yang disebutnya sebagai suntikan semangat bagi para peneliti. Fadjry menjelaskan bahwa proses penelitian bukanlah pekerjaan instan; ia mencontohkan, pengembangan satu varietas mangga unggul bisa memakan waktu hingga satu dekade. "Hasil penelitian memang tidak bisa langsung dinikmati. Namun, ini adalah investasi jangka panjang. Jika kita tidak melakukannya, kita akan terus tertinggal dan bergantung pada impor," jelas Fadjry, menekankan pentingnya kemauan untuk terus berinovasi.
Fadjry menegaskan bahwa inovasi di sektor pertanian adalah kunci utama bagi Indonesia untuk meraih swasembada pangan yang berkelanjutan. "Tanpa persiapan varietas terbaru dan teknologi mutakhir, kita akan selalu tertinggal," pungkasnya, menggarisbawahi urgensi pengembangan riset pertanian yang tiada henti.




