Abcmarathinews.com – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara kembali menetapkan status tanggap darurat bencana. Keputusan ini diambil setelah wilayah tersebut dilanda banjir susulan selama dua hari terakhir, dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi dan meluapnya sejumlah sungai. Status darurat ini akan berlaku selama 14 hari, hingga 24 Januari 2026, guna mempercepat penanganan dampak bencana yang kini memasuki fase kritis.
Sebelumnya, Aceh Utara sempat mengakhiri fase tanggap darurat dan beralih ke masa transisi menuju pemulihan pada awal Januari. Namun, kondisi lapangan yang memburuk akibat banjir baru membuat evaluasi ulang diperlukan. Plt Sekda Aceh Utara, Jamaluddin, menjelaskan, "Curah hujan tinggi beberapa hari terakhir kembali memicu banjir susulan cukup luas di sini." Ia menambahkan, "Kita sepakat mengembalikan status daerah ke tanggap darurat sehingga langkah penyelamatan lebih maksimal."

Dengan status tanggap darurat ini, Pemkab Aceh Utara akan memiliki kewenangan lebih luas dalam mengerahkan personel, peralatan, serta memanfaatkan anggaran darurat untuk respons bencana. Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan ringan hingga sedang masih akan mengguyur Aceh Utara dalam beberapa hari ke depan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama yang bermukim di bantaran sungai dan area rawan banjir.
Banjir yang terjadi saat ini menambah daftar panjang penderitaan warga Aceh Utara, yang sebelumnya telah menjadi salah satu daerah terdampak parah bencana banjir dan longsor pada akhir November 2025. Berdasarkan laporan terkini dari posko tanggap darurat bencana Aceh, bencana sebelumnya telah merenggut 230 nyawa dan menyebabkan 6 orang hilang. Sebanyak 19.047 jiwa mengungsi di 210 titik, dan 46.607 unit rumah warga mengalami kerusakan. Bahkan, empat dusun pemukiman di Desa Guci, Riseh Teungoh, Riseh Baroh, dan Desa Rayeuk Pungkie dilaporkan hilang.
Sektor pertanian, khususnya perkebunan kopi, juga mengalami pukulan telak. Banjir bandang dan longsor akhir November 2025 lalu menyebabkan kerusakan serius pada sekitar 13.083 hektar kebun kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Aceh Tengah menjadi wilayah terparah dengan 12.638 hektar kebun kopi rusak, sementara di Bener Meriah mencapai 445 hektar. Juru Bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin, merinci, "12.638 hektare lahan kopi di Aceh Tengah mengalami kerusakan dan 445 hektare di Bener Meriah." Kerusakan terluas terjadi di Kecamatan Pegasing, Bintang, dan Rusip Antara di Aceh Tengah.
Menyikapi dampak ini, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Cut Huzaimah, menyatakan bahwa pendataan final lahan kopi dan perkebunan lainnya masih berlangsung hingga 20 Januari 2026. Pihaknya berkomitmen untuk memberikan bantuan maksimal kepada para petani terdampak, dengan dukungan anggaran dari APBN, sembari menunggu hasil pendataan menyeluruh terkait luas dan tingkat kerusakan.




